Show simple item record

dc.contributor.authorKlakik, Josefhine Floristy Ss
dc.date.accessioned2026-10-13T08:47:07Z
dc.date.available2026-10-13T08:47:07Z
dc.date.issued2026-03-27
dc.identifier.urihttp://localhost:8080//handle/123456789/1066
dc.description.abstractInovasi telah menjadi pilar fundamental bagi keberlanjutan perusahaan di tengah dinamika ekonomi global, namun investasi pada Research & Development (R&D) juga menyimpan paradoks risiko keuangan karena sifatnya yang berjangka panjang dan penuh ketidakpastian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak intensitas R&D dan output inovasi (paten) terhadap probabilitas financial distress pada perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2018-2024. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi logistik biner. Data dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dari laporan tahunan perusahaan manufaktur dan sektor terkait periode 2018-2024 yang dipilih menggunakan metode purposive sampling. Variabel independen utama mencakup biaya R&D dan jumlah paten, sedangkan variabel dependen adalah status financial distress yang diklasifikasikan menjadi kelompok Sukses (Turnaround), Gagal (Failure), dan Abu-abu (Gray Area). Hasil penelitian mengklasifikasikan objek penelitian ke dalam tiga kategori: Sukses/Turnaround (2 emiten), Gagal (8 emiten), dan Abu-abu/Gray Area (30 emiten). Temuan kunci menunjukkan adanya kesenjangan data yang signifikan; hanya segelintir perusahaan (seperti GOOD, KINO, dan AISA) yang secara transparan melaporkan data inovasi. Perusahaan dalam kelompok "Sukses" mampu mengintegrasikan inovasi ke dalam strategi manajemen akuntansi untuk mencapai resiliensi. Sebaliknya, inovasi diidentifikasi sebagai "obat berdurasi panjang" yang membutuhkan waktu (lagging time) sebelum mampu memperbaiki kinerja profitabilitas secara signifikan. Transparansi R&D dan paten merupakan sinyal strategis bagi investor untuk menilai kapabilitas dinamis perusahaan dalam menghadapi krisis. Rendahnya pelaporan aset intelektual di BEI menunjukkan bahwa mayoritas emiten belum menjadikan inovasi sebagai instrumen utama manajemen krisis. Penelitian ini menyarankan perlunya standarisasi kewajiban pelaporan aset intelektual oleh regulator untuk meningkatkan transparansi pasar.en_US
dc.publisherPSAPen_US
dc.subjectResearch & Development (R&D)en_US
dc.subjectInovasien_US
dc.subjectPatenen_US
dc.subjectFinancial Distressen_US
dc.subjectTurnaround Successen_US
dc.subjectBursa Efek Indonesiaen_US
dc.titleAnalisis Dampak Research & Development Dan Inovasi Terhadap Financial Distress Perusahaan Terbuka Di Bursa Efek Indonesiaen_US
dc.typeWorking Paperen_US


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record