Studi Kelayakan dan Pengembangan Bisnis Dimsum.lo pada Produk Dimsum Mentai
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial pengembangan usaha dimsum.io pada produk dimsum mentai serta mengetahui tingkat ketahanan usaha terhadap perubahan kondisi operasional berdasarkan simulasi usaha. Dimsum.io merupakan usaha kuliner yang bergerak di bidang makanan oriental dengan produk utama berupa dimsum original, frozen dimsum, dan dimsum mentai. Produk dimsum mentai dipilih sebagai fokus penelitian karena memiliki tingkat permintaan tertinggi dibandingkan varian lainnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi kelayakan
finansial berbasis simulasi usaha. Analisis dilakukan melalui penyusunan struktur biaya, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) menggunakan metode variable costing, analisis Break Even Point (BEP) dengan pendekatan Weighted Average Contribution Margin (WACM), Payback Period (PP), serta analisis sensitivitas. Data penelitian diperoleh dari data operasional aktual dan simulasi target penjualan usaha dimsum.io. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan simulasi usaha, total biaya operasional sebesar Rp. 46,236,291 per bulan terdiri dari biaya tetap sebesar Rp. 10,030,963 dan biaya variabel sebesar Rp. 36,205,328. Berdasarkan hasil analisis WACM sebesar Rp. 9.998 per porsi, diperoleh titik impas (BEP) sebesar 1.003 porsi per bulan atau 39 porsi per hari. Dengan target penjualan sebesar 2.028 porsi per bulan, usaha berada di atas titik impas dengan
margin of safety sebesar 50,5%. Investasi awal sebesar Rp45.896.337 diperkirakan dapat kembali dalam waktu 4,39 bulan atau sekitar 4 bulan 11 hari. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha masih layak dijalankan ketika harga bahan baku naik 5%, namun usaha mulai mengalami kerugian apabila penjualan turun secara bertahap hingga berada di bawah titik impas. Berdasarkan hasil penelitian, pengembangan usaha dimsum mentai dimsum.io dinilai layak secara finansial berdasarkan simulasi usaha yang dilakukan serta memiliki tingkat ketahanan usaha yang cukup baik selama volume penjualan dapat dipertahankan di atas titik impas dan pengendalian biaya bahan baku dilakukan secara konsisten.